Tanpa ada Jaringan Internet dan Sulitnya Akses Jalan
Melihat Sekolah Terpencil di Pedalaman Leuser Kabupaten Aceh Tenggara
- Redaksi
- Rabu, 08 Mei 2024 - 22:46 WIB - 1168 Views
ACEH TENGGARA (ACEHHITS.COM) - Pendidikan menjadi hal yang mutlak untuk dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pembangunan dan penyediaan fasilitas pendidikan saat ini tidak hanya sebatas pembangunan gedung dan ketersediaan peralatan belajar mengajar, namun fasilitas dan layanan teknologi internet yang sudah serba canggih menjadi kebutuhan untuk menunjang kegiatan pendidikan.
Melalui berbagai program pemerintah dalam dunia pendidikan, sekolah-sekolah di daerah telah banyak terpenuhi kebutuhan tersebut. Namun tidak demikian yang dirasakan sebanyak 27 siswa/siswi SMP Negeri 8 Lawe Sigala-gala Satap, Kecamatan Leuser, Kabupaten Aceh Tenggara. Mereka masih belajar ditengah keterbatasan fasilitas dibandingkan dengan sekolah-sekolah lainnya di Kabupaten Aceh Tenggara.
Dari segi lokasi, sekolah itu terletak nun jauh disana. Sekitar 80 KM lebih dari pusat kota Kabupaten Aceh Tenggara-Kutacane. Persisnya terletak di Desa Bun-bun Indah, Kecamatan Leuser, Kabupaten Aceh Tenggara.
Kepala Sekolah dan para guru masih kebanyakan tinggal di luar kecamatan tersebut. Untuk mencapai lokasi sekolah setiap menunaikan kewajiban tugas mengajar, para guru, hanya bisa mengakses jalan darat dengan sepeda motor saja.
Pun saat musim hujan, kondisi jalanan menuju sekolah yang belum pernah tersentuh aspal hitam berubah Ekstrim, bak kubangan kerbau. Tidak bisa dilalui lagi dengan sepeda motor. Solusinya para guru harus menempuh melalui jalur sungai. Dengan menumpangi perahu transportasi sungai dari daerah Desa Muara Situlen yang masih satu kecamatan dengan sekolah tersebut.
"Saat ini guru kami PNS, terdiri dari ASN dan P3K ada 9 orang. Ditambah honorer 6 orang. Jumlah semua 15 orang," ungkap Kepala SMP Negeri 8 Lawe Sigala-gala Satap, Abd Sani, S. Pd, M. Si kepada Tim Liput ACEHHITS.COM, Rabu (8/5/2024).
Selain kondisi jalan yang begitu sulit menuju sekolah, Abd Sani mengatakan fasilitas jaringan internet yang belum ada masuk di wilayah sekolah tersebut.
Masyarakat desa penyangga sekitar sekolah, Desa Bun-bun Indah dan Desa Bun-bun Alas, untuk menelpon saja harus mencari titik-titik tertentu diluar wilayah sekolah, supaya terkena signal handphone.
"Akibat tidak adanya jaringan internet, di sekolah siswa/siswi kesulitan mengikuti ujian. Begitu juga untuk Sistem Informasi Kepegawaian Nasinal (SIMPEGNAS)" ujar Abd Sani.
Meski demikian, lanjut Abd Sani, ketika siswa/siswi mengikuti Asismen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), dia mencari solusi supaya anak muridnya tidak gagal.
"Semua Siswa/Siswi yang mengikuti ANBK saya bawa menginap di SMP Negeri 3 Kutacane. Baik pra ANBK maupun saat ANBK," ujar Abd Sani.
Sejauh ini, imbuh Abd Sani, fasilitas Ruang Kelas Belajar (RKB) di sekolah tersedia tiga ruangan saja dan satu ruang kepala sekolah yang kondisi lantainya sudah rusak.
"Pembangunan untuk Mess guru juga sudah saya usul dibangun disini. Untuk ketika hujan, apabila guru tidak bisa pulang, bisa menginap," tandas Abd Sani, dengan nada kesal, hingga sekarang belum terealisasi.
Laporan : Riky Octa Berutu.









