Bawa Penumpang 20 Orang, Perahu Kayu Mesin (Robin) Terbalik di Sungai Alas Agara: 2 Tewas, 6 Hilang
- Redaksi
- Senin, 23 Des 2024 - 11:09 WIB - 416 Views
ACEH TENGGARA (ACEHHITS.COM) - Perahu Kayu Bermesin (Robin) terbalik di perairan Sungai Lawe Alas.
Persisnya pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Lawe Alas, wilayah Sibiluk, Kecamatan Leuser, Kabupaten Aceh Tenggara, Minggu (22/12/2024).
Perahu Kayu Bermesin itu terbalik, membawa 20 orang penumpang termasuk pengemudi, saat perjalanan dari DAS Desa Muara Situlen, Kecamatan Babul Makmur Agara menuju Desa Bun-Bun Indah, Kecamatan Leuser.
"Informasi sementara yang kita terima adanya kejadian perahu mesin (Robin) terbalik di sungai lawe alas, sekitar pukul 13.30 WIB," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agara, Mohd. Asbi, ST, MM.
Menurut Mohd. Asbi dari 20 orang penumpang Robin tersebut, 2 orang ditemukan sudah meninggal dunia dan 12 orang selamat.
Kemududian, katanya, 6 orang penumpang hilang, masih belum ditemukan dan dilakukan pencarian bersama tim Basarnas, TNI/Polri, BPBD dan masyarakat.
Lebih lanjut, Kepala Pelaksana BPBD Agara menyampaikan, 2 orang penumpang yang jadi korban meninggal dunia karena pristiwa perahu kayu bermesin terbalik tersebut yaitu, Saemah(56) dan Sudes(1).
Lalu, 6 orang penumpang yang masih dinyatakan hilang yaitu, Sahrul(50), Mahmuda(70), Mariana(40), Suliani(13), Fatimah(21), Dilal(6).
"Upaya yang kita lakukan dalam pencarian, penyelamatan dan pertolongan, kita terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. BPBD juga mendirikan posko penyelamatan di Desa Muara Situlen titik pencarian korban," tandas Mohd. Asbi.
Sementara itu, Kepala Desa Bun-Bun Indah, Hermanto berharap pencarian untuk para korban yang dinyatakan hilang agar terus dilakukan sampai korban dapat ditemukan.
Disamping itu, Hermanto juga mengungkapkan, kejadian memilukan kecelakaan kapal terbalik ini tidak akan terjadi, jika jalan transportasi jalur darat menuju desa para korban tidak terputus akibat longsor.
Akibat jalan longsor tersebut, masyarakat terpaksa memilih menggunakan trasportasi jalur air sungai untuk menuju ke desa mereka.
"Seandainya jalan darat bisa di lalui kemungkinan besar tidak terjadi kecelakaan ini," ujar Hermanto.
Laporan : Riky Octa Berutu









